
Mengapa Banyak Program Pembangunan Tampak Berhasil di Atas Kertas, tetapi Gagal di Lapangan?
Immersia Insight Series by Dasril Guntara
Di dunia pembangunan sosial, ada sebuah paradoks yang jarang dibicarakan secara terbuka: hampir semua program terlihat berhasil.
Indikator tercapai. Target terpenuhi. Kegiatan terlaksana sesuai rencana. Laporan disusun dengan rapi dan menunjukkan berbagai capaian yang meyakinkan. Dari jumlah peserta pelatihan hingga jumlah workshop yang diselenggarakan, hampir semua hal dapat dihitung dan dilaporkan.
Di atas kertas, banyak program pembangunan tampak sangat sukses.
Namun ketika kita melihat lebih dekat ke realitas di lapangan, muncul sebuah pertanyaan yang sering kali terasa tidak nyaman: jika begitu banyak program berhasil, mengapa banyak masalah sosial yang sama terus berulang?
Kemiskinan masih menjadi persoalan struktural di banyak tempat. Ketimpangan sosial tetap tinggi. Banyak komunitas masih menghadapi tantangan yang sama dari tahun ke tahun, bahkan setelah berbagai program intervensi dilakukan.
Paradoks ini bukanlah fenomena baru. Dalam literatur pembangunan, berbagai peneliti telah lama mengingatkan bahwa keberhasilan program sering kali lebih mudah ditunjukkan dalam laporan dibandingkan dalam perubahan sosial yang nyata.
Salah satu penyebabnya adalah cara kita mendefinisikan keberhasilan program.
Banyak program pembangunan masih sangat bergantung pada indikator yang relatif mudah diukur: jumlah pelatihan yang dilakukan, jumlah peserta yang hadir, jumlah pertemuan yang diselenggarakan, atau jumlah materi yang dibagikan. Indikator-indikator ini memang penting untuk memastikan bahwa kegiatan program berjalan sesuai rencana.
Namun indikator tersebut belum tentu mampu menjelaskan apakah perubahan sosial yang lebih mendalam benar-benar terjadi.
Pelatihan yang terlaksana tidak selalu berarti peningkatan penghidupan masyarakat. Workshop yang selesai dilaksanakan tidak otomatis menghasilkan perubahan perilaku. Kebijakan yang berhasil dirumuskan tidak selalu berujung pada implementasi yang nyata.
Dengan kata lain, program pembangunan sering kali sangat efektif dalam menghasilkan aktivitas, tetapi belum tentu dalam menghasilkan transformasi.
Michael Quinn Patton melalui pendekatan Utilization-Focused Evaluation menekankan bahwa evaluasi seharusnya dirancang bukan sekadar untuk menghasilkan laporan, tetapi untuk benar-benar digunakan dalam proses pembelajaran dan pengambilan keputusan organisasi (Patton, 2008). Namun dalam praktiknya, evaluasi sering kali berhenti pada fungsi administratif: memastikan bahwa indikator tercapai dan laporan dapat diserahkan tepat waktu.
Akibatnya, kita sering mengetahui apa yang dilakukan oleh sebuah program, tetapi jauh lebih sedikit memahami apakah program tersebut benar-benar mengubah sesuatu.
Masalah ini juga berkaitan dengan kecenderungan yang lebih luas dalam sektor pembangunan: organisasi sering kali mengukur apa yang mudah diukur, bukan apa yang paling penting untuk dipahami.
Robert Chambers (2017) mengkritik pendekatan pembangunan yang terlalu teknokratik dan terlalu mengandalkan kerangka kerja yang dirancang dari atas. Dalam banyak kasus, pengalaman dan perspektif masyarakat yang menjadi sasaran program justru kurang mendapat ruang dalam proses perencanaan maupun evaluasi.
Ketika keberhasilan program lebih banyak ditentukan oleh indikator administratif daripada pengalaman nyata masyarakat, maka tidak mengherankan jika banyak program tampak berhasil dalam laporan, tetapi dampaknya terasa terbatas di kehidupan sehari-hari.
Kerangka evaluasi global sebenarnya sudah mencoba menjawab persoalan ini. OECD melalui OECD DAC Evaluation Criteria menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh efektivitas pelaksanaan kegiatan, tetapi juga oleh relevansi program terhadap kebutuhan masyarakat, dampak jangka panjang, serta keberlanjutan perubahan yang dihasilkan (OECD, 2019).
Namun dalam praktik sehari-hari, dimensi-dimensi tersebut sering kali menjadi bagian yang paling sulit untuk dijelaskan dalam laporan.
Sebagian karena perubahan sosial memang bersifat kompleks. Program pembangunan beroperasi di dalam sistem sosial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor: budaya lokal, relasi kekuasaan, kondisi ekonomi, hingga dinamika politik di tingkat lokal. Dalam sistem yang kompleks seperti ini, hubungan antara intervensi program dan perubahan sosial jarang bersifat linear.
Namun sebagian lagi karena cara kita mendesain program pembangunan memang cenderung menyederhanakan kompleksitas tersebut.
Banyak program masih didasarkan pada asumsi yang sangat linear: kegiatan menghasilkan output, output menghasilkan outcome, dan outcome menghasilkan impact. Model logis seperti ini membantu kita merancang proposal dan menyusun laporan. Tetapi perubahan sosial hampir tidak pernah mengikuti alur yang serapi itu.
Di sinilah monitoring dan evaluasi seharusnya memainkan peran yang lebih strategis.
Preskill dan Boyle (2008) menunjukkan bahwa organisasi yang memiliki kapasitas evaluasi yang kuat cenderung menjadikan evaluasi sebagai bagian dari proses pembelajaran organisasi. Evaluasi tidak hanya menjawab apakah sebuah program berhasil atau tidak, tetapi juga membantu organisasi memahami mengapa suatu pendekatan berhasil di satu konteks dan tidak berhasil di konteks lain.
Namun untuk sampai pada titik tersebut, evaluasi perlu diposisikan bukan hanya sebagai kewajiban pelaporan, tetapi sebagai ruang refleksi.
Dalam pengalaman saya bekerja di berbagai program pembangunan, tantangan terbesar sering kali bukan pada kurangnya data. Justru sebaliknya—banyak organisasi memiliki cukup banyak data.
Yang sering kali kurang adalah ruang untuk benar-benar mempertanyakan apakah pendekatan yang kita gunakan sudah menghasilkan perubahan yang kita harapkan.
Pertanyaan seperti ini tidak selalu mudah diajukan. Ia menuntut kejujuran institusional. Ia juga menuntut keberanian untuk melihat bahwa keberhasilan program mungkin tidak selalu sejelas yang terlihat dalam laporan.
Namun tanpa pertanyaan-pertanyaan tersebut, risiko terbesar bukanlah bahwa program pembangunan gagal.
Risiko terbesar adalah bahwa kita terus mengulang pendekatan yang sama—sambil tetap percaya bahwa semuanya berjalan dengan baik.
Pada akhirnya, tujuan pembangunan bukanlah menghasilkan laporan yang menunjukkan keberhasilan program.
Tujuannya adalah menghadirkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat.
Dan mungkin langkah pertama menuju perubahan tersebut adalah dengan berani mengajukan pertanyaan yang paling sederhana—namun sering kali paling sulit:
Apakah program yang kita jalankan benar-benar mengubah sesuatu?
Referensi
Chambers, R. (2017). Can we know better? Reflections for development. Practical Action Publishing.
OECD. (2019). Better criteria for better evaluation: Revised evaluation criteria definitions and principles for use. OECD Publishing.
Patton, M. Q. (2008). Utilization-focused evaluation (4th ed.). Sage Publications.
Preskill, H., & Boyle, S. (2008). A multidisciplinary model of evaluation capacity building. American Journal of Evaluation, 29(4), 443–459.